Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2011

Rasulullah SAW dan Pengemis Buta




Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya."

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW yang dihinanya setiap hari. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?"

Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu pun kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja." "Apakah Itu?" tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana." kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?" Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)." "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku." bantah si pengemis buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku." pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW."

Mendengar penjelasan Abubakar RA, seketika itu juga pengemis itu meledak tangisnya, sangat menyesal, dan dalam basahnya air mata ia berkata, "Benarkah itu? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia, begitu agung...."

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga, dan sejak hari itu menjadi muslim.

¤.♥.¤ Syahidnya Pengantin Surga ¤.♥.¤



Dialah Sa'ad As-Sulami (Rasulullah saw memanggilnya Julabib), seorang tokoh pemuda diantara sahabat Rasul yang berasal dari keluarga terpandang di kabilahnya bani Sulaim. Namun karena ia berkulit hitam, mereka (bani Sulaim) menolak keberadaan Julabib.

Suatu hari ia datang menghadap Rasulullah saw., "Ya Rasulallah, apakah hitamnya kulit dan buruknya wajahku dapat menghalangiku masuk surga?"

"Tidak, selama engkau yakin kepada Rabbmu dan membenarkan Rasul dan risalah yang dibawanya..." jawab Rasulullah saw.

Kemudian Julabib menegaskan, "Demi Allah, sesungguhnya aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, dan engkau adalah hamba dan Rasul-Nya. Akan tetapi Ya Rasulullah, aku telah mencoba melamar wanita yang ada di sekitar sini dan yang jauh dari sini, dan mereka semua menolakku."

Maka Rasulullah saw menungkapkan, "Wahai kekasihku Julabib, Maukah engkau aku nikahkan dengan seorang wanita yang pandai dan cantik? Tahukah engkau rumah Amr bin Wahb dari bani Tsaqif? Ia adalah orang yang baru masuk Islam dan memiliki putri yang pandai dan cantik. Datanglah ke rumahnya dan katakan bahwa aku melamarkan putrinya untukmu..."

Dengan gembira berangkatlah Julabib ke rumah Amr bin Wahb r.a. Setelah memberi salam dan masuk ia berkata, "Betulkah Tuan yang bernama Amr bin Wahb dari bani Tsaqif?"

"Betul..." jawab Amr bin Wahb, "Siapa Anda? Dan apa keperluan Anda datang menemuiku?"

"Aku Sa'ad As-Sulami dari bani Sulaim, aku datang karena diutus oleh Rasulullah untuk melamar putrimu." jawab Julabib.

Keluarga Amr bin Wahb amat senang mendengar berita itu, karena ia mengira bahwa Rasulullah yang melamar putrinya. Maka Julabib pun menjelaskan, "Bukan begitu Tuan...tetapi Beliau saw. memintamu untuk menikahkan aku dengan putrimu."

Amr bin Wahb pun terkejut dan berkata, "Kamu pasti berdusta..!!!"

Mendengar ucapan yang keras dari Amr bin Wahb, Julabib pergi dengan wajah murung menemui Rasulullah. Sementara itu putri Amr bin Wahb yang mendengar percakapan tadi berkata pada Ayahnya, "Hai Ayah, carilah selamat, carilah selamat! Jangan sampai Allah dan Rasul-Nya murka dan kau akan dipermalukan dengan turunnya ayat dari langit tentang perbuatanmu ini. Jika Allah dan Rasul-Nya rela aku menikah dengan orang itu, maka akupun rela menikah dengannya."

Amr bin Wahb pun bergegas pergi mengejar, dan segera menemui Rasulullah. Hingga keduanya menghadap kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah saw bertanya, "Inikah orang yang menolak lamaranku untuk kekasihku Julabib?"

Amr bin Wahb mengakui, "Benar ya Rasul, maafkan kekhilafanku karena aku mengira ia telah berdusta. Jika memang engkau yang memerintahkan, maka aku rela menikahkan putriku dengan pemuda dari bani Sulaim ini."

Seketika itu Rasulullah saw. pun memimpin pernikahan Sa'ad As-Sulami (Julabib) dengan putri dari Amr bin Wahb bani Tsaqif. Kemudian Rasulullah saw. berkata pada Julabib, "Pergilah pada beberapa orang Muhajirin, datanglah kepada Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib."

Maka Julabib mendatangi mereka semuanya, Abdurrahman bin Auf r.a. memberi bahkan dilebihkan, Utsman bin Affan r.a. memberi serta melebihkan, begitu pun 'Ali bin Abi Thalib r.a. memberi bahkan melebihkan.

Julabib telah mendapatkan ratusan dirham. Kemudian ia pergi ke pasar untuk membeli mas kawin, dan beberapa pakaian untuk hadiah kepada istrinya yang belum sempat ditemuinya. Tetapi mendadak terdengar seruan, "Wahai kuda-kuda Allah, bergeraklah... bergeraklah...!!!" sebuah tanda seruan untuk berjihad.

Julabib menatap ke arah langit dan berkata, "Ya Allah, kecantikan istriku mungkin takkan sebanding dengan kecantikan surga-Mu, maka aku akan memenuhi panggilan jihad-Mu."

Maka ia mengembalikan semua belanjaannya, dan membeli baju besi dan kuda serta tameng untuk berperang dan segera dikenakannya. Hingga wajahnya tidak terlihat kecuali hanya kedua matanya.

Ketika tiba dalam barisan, Rasulullah saw mulai mengabsen satu persatu setiap barisannya. Nampak Julabib yang menghindar dari pandangan Rasulullah saw. Ketika Rasulullah bergerak ke arah kiri, ia menyelundup ke arah kanan. Dan begitu sebaliknya. Mungkin Julabib khawatir jika Rasulullah mengetahui keikut-sertaannya maka Rasulullah akan menyuruhnya pulang untuk menemui istrinya terlebih dahulu.

Melihat perbuatan Julabib, Rasul hanya tersenyum. Saat Julabib menyingsingkan lengannya, rupanya Beliau saw. tahu bahwa itu adalah Julabib, seorang pemuda yang baru saja menikah tetapi belum bertemu dengan istrinya. Tetapi Rasul membiarkannya. Sementara orang-orang saling bertanya tentang penunggang kuda baru ini. 'Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Mungkin ia datang dari Negeri Syam untuk mempelajari agamamu dan melindungimu."

Tatkala peperangan terjadi, Julabib maju dengan bersemangat, ia bergerak dengan lincah, menghantam ke kiri dan ke kanan, hingga kudanya kelelahan. Ia pun turun dari kudanya dan terus bergerak maju, maju dan terus maju. Hingga akhirnya peperangan usai.

Ketika pasukan kembali dari medan jihad, Rasulullah saw bertanya, "Di mana kekasihku Julabib?". Para sahabat hanya saling pandang seraya bertanya-tanya siapakah Julabib yang dimaksud Rasul? Rasulullah mengulang kembali pertanyaannya "Di mana kekasihku Julabib?" seraya berkaca-kaca. Tiga kali pertanyaan itu diungkapkan Rasul, namun tak ada seorang pun yang tahu tentang kabar dan keberadaan Julabib.

Pasukan pun kembali ke medan jihad mencari sosok Julabib. Rupanya Julabib telah syahid. Jasadnya berada di tengah-tengah tujuh mayat orang kafir. Kemudian Rasul berjalan menuju jasad seorang Sa’ad As-Sulami, diletakkan kepalanya dipangkuannya dan dibersihkannya dari debu dengan kain. Lantas Rasulullah saw menangis, kemudian tersenyum, dan kemudian memalingkan wajahnya yang telah memerah.

Maka ditanyakanlah, "Ya Rasulullah, tadi kami melihat engkau begini, begini, dan begini (menangis, tersenyum, lalu memalingkan wajah)?".

Beliau menjawab, "Aku menangis karena aku akan merindukan seorang Sa'ad As-Sulami (Julabib). Kemudian aku tersenyum karena ia sudah menggenapkan separuh agamanya (nikah), hingga aku melihat ia telah berada di tepian telaga jernih yang tepiannya terbuat dari intan dan permata (surga). Lalu aku memalingkan wajah karena melihat bidadari berkumpul dan berlarian menghampiri Julabib, sedang gaunnya tersingkap hingga aku melihat betisnya. Aku malu melihatnya, karena bidadari itu hanya milik Julabib."

Sang Pengantin Surga pun telah syahid. Kemudian Rasulullah saw mengumpulkan semua barang dan kendaraan milik Julabib untuk diserahkan kepada putri Amr bin Wahb, seraya berkata, "kataknlah pada Amr bin Wahb, Sesungguhnya Allah telah menikahkan Sa’ad As-Sulami dengan wanita yang lebih baik dari putrimu (bidadari surga)."

Wallahu a'lam bi shawwab.
Semoga manfa'at dan menjadi motivasi keimanan.

" Pahitnya Kejujuran Yang Berbuah Maghfirah "




Adalah Ka'ab bin Malik radhiallahu'anhu, salah seorang diantara tiga penyair dari kaum Anshar yang menjadi penyair terbaik pilihan Rasulullah saw. Bahkan karena kehebatan syairnya, seorang suku Daus masuk Islam karena menggigil mendengar syairnya.

Kejujuran Ka'ab bin Malik r.a. yang tidak turut serta dalam Perang Tabuk berakibat pahit bagi kehidupannya. Berikut penuturan Ka'ab bin Malik r.a.

"Aku sama sekali tidak pernah absent mengikuti semua peperangan bersama Rasululah saw, kecuali dalam Perang Tabuk. Perihal ketidak ikut sertaanku dalam Perang Tabuk itu adalah karena kelalaian diriku terhadap perhiasan dunia, ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan onta, akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memikinya.

Sungguh, tidak pernah Rasullah saw. merencanakan suatu peperangan melainkan beliau merahasiakan hal itu, kecuali pada perang Tabuk ini.

Peperangan ini, Rasulullah saw. lakukan dalam kondisi panas terik matahari, gurun yang sangat menyengat, menempuh perjalanan nan teramat jauh, serta menghadapi lawan yang benar-benar besar dan tangguh. Jadi, rencananya jelas sekali bagi kaum muslimin untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju suatu perjalanan dan peperangan yang jelas pula.

Rasulullah saw. mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta, tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, "Aku bisa melakukannya kalau aku mau!"

Akhirnya, aku terbawa oleh pikiranku yang ragu-ragu, hingga para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Aku lihat pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Maka timbul pikiranku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun, aku tidak melakukannya, kemalasan menghampiri dan bahkan menguasai diriku.

Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut. Akan tetapi, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah saw. meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, maka di jalan-jalan aku merasakan terkucilkan sebab aku tidak melihat orang-orang kecuali mereka yang diragukan keislamannya. Merekalah orang-orang yang sudah mendapatkan rukhshah atau ijin Allah Ta’ala untuk uzur atau kalau tidak demikian maka mereka adalah orang-orang munafik. Padahal, aku merasa bahwa diriku tidak termasuk keduanya.

Konon, Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut namaku hingga pasukan kaum muslimin sampai ke Tabuk. Setibanya di sana, ketika beiau sedang duduk-duduk bersama sahabatnya, beliau menyeru, "Kemarilah wahai Ka'ab! Dimana Ka'ab? Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik?"
Seorang dari Bani Salamah menjawab, "Ya Rasulullah, ia sedang sibuk dengan harta dan kendaraannya." Mu’az bin Jabal r.a. menyangkal, "Amatlah buruk ucapanmu itu! Demi Allah, ya Rasulullah, aku tahu siapa Ka'ab." Namun Rasulullah saw. hanya terdiam saja.

Setelah Perang Tabuk usai, aku mendengar Rasulullah saw. kembali dari medan jihad di Tabuk. Ada dalam pikiranku berbagai desakan dan dorongan untuk membawa alasan palsu ke hadapan Rasulullah saw. bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya? Aku minta pendapat dari beberapa orang keluargaku yang terkenal berpikiran baik. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi saw. segera tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin bahwa aku tidak akan pernah menyelamatkan diri dengan kebatilan itu sama sekali. Maka aku bertekad bulat akan menemui Rasulullah saw. dan mengatakan dengan sebenarnya.

Pagi-pagi, Rasulullah saw. memasuki kota Madinah. Sudah menjadi kebiasaan kalau beliau kembali dari suatu perjalanan, pertama masuk ke masjid dan shalat dua rakaat. Demikian pula usai dari Tabuk. Selesai shalat beliau kemudian duduk melayani tamu-tamunya. Lantas, berdatanganlah orang-orang yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk dengan membawa alasan masing-masing diselingi sumpah palsu untuk menguatkan alasan mereka. Jumlah mereka kira-kira delapan puluhan orang. Rasulullah saw. menerima alasan zhahir mereka dan mereka pun memperbaharui baiat setia mereka. Beliau memohonkan ampunan bagi mereka dan menyerahkan soal batinnya kepada Allah.

Tibalah giliranku, aku datang mengucapkan salam kepada Beliau saw. Beliau membalas dengan senyuman hambar. Beliau kemudian berkata, "Kemarilah!"
Aku pun menghampirinya, lalu duduk di hadapannya. Beliau tiba-tiba bertanya, "Wahai Ka’ab, mengapa dirimu tidak ikut? Bukankah kau telah menyatakan baiat kesetianmu?"

Aku menjawab, "Ya Rasulullah! Demi Allah. Kalaulah aku duduk di hadapan penduduk bumi yang lain, tentulah aku akan berhasil keluar dari amarah mereka dengan berbagai alasan dan dalil lainnya. Namun, demi Allah. Karena aku duduk di hadapanmu, aku sadar kalau aku berbicara dusta padamu dan engkau menerima alasan kebohonganku, aku khawatir Allah akan marah padaku.

Kalau kini aku bicara jujur, kemudian karena itu engkau marah kepadaku, sesungguhnya aku berharap Allah akan mengampuni kekhilafanku. Ya Rasululah, demi Allah, aku tidak punya uzur. Demi Allah, keadaan ekonomiku pun dalam keadaan baik!" Mendengar itu Rasulullah saw. berkata, "Kalau begitu, tidak salah lagi. Kini, pergilah kau sehingga Allah menurunkan keputusan-Nya kepadamu!"

Aku pun pergi diikuti oleh orang-orang Bani Salamah. Mereka berkata padaku, "Demi Allah. Kami belum pernah melihatmu melakukan kekhilafan sebelumnya. Kau tampaknya tidak mampu membuat-buat alasan seperti yang lain, padahal dosamu itu sudah terhapus oleh permohonan ampun Rasulullah!" Mereka terus saja menyalahkan kejujuranku itu hingga ingin rasanya aku kembali menghadap Rasulullah saw. untuk membawa alasan palsu, sebagaimana orang lain melakukannya.

Aku bertanya kapada mereka, "Apakah ada orang yang senasib denganku?" Mereka menjawab, "Ya! Ada dua orang yang jawabannya sama dengan apa yang kau perbuat. Sekarang mereka berdua juga mendapat keputusan yang sama dari Rasulullah sebagaimana keadaanmu sekarang!" Aku bertanya lagi, "Siapakah mereka itu?" Mereka menjawab, "Murarah bin Rabi' Al-Amiri dan Hilal bin Umayah Al-Waqifi." Mereka menyebutkan dua nama orang shalih yang pernah ikut dalam perang Badr dan yang patut diteladani. Begitu mereka menyebutkan dua nama orang itu, aku bergegas pergi menemui mereka.

Tak lama setelah itu, aku mendengar Rasulullah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami bertiga, di antara delapan puluhan orang yang tidak ikut dalam Perang Tabuk tersebut.

Kami mengucilkan diri dari masyarakat umum. Sikap mereka sudah lain kapada kami sehingga rasanya aku hidup di suatu negeri yang lain dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Kedua rekanku itu mendekam di rumah masing-masing menangisi nasib dirinya. Tetapi aku yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku keluar untuk shalat berjama'ah dan keluar masuk pasar meski tak seorang pun yang mau berbicara denganku atau menanggapi bicaraku.

Aku juga datang ke majelis Rasulullah saw. sesudah Beliau shalat. Aku mengucapkan salam kepada Beliau, sambil hati kecilku bertanya-tanya dan memperhatikan bibir beliau, "Apakah beliau menggerakkan bibirnya menjawab salamku atau tidak?"

Aku juga shalat dekat sekali dengan Beliau saw. Aku mencuri pandang melihat pandangan Beliau. Kalau aku bangkit mau shalat, ia melihat kepadaku. Namun, apabila aku melihat kepadanya, Beliau saw. memalingkan wajahnya cepat-cepat. Sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali.

Hingaa suatu hari, aku mengetuk pintu pagar Abu Qatadah, saudara misanku dan ia adalah saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku. Aku menegurnya, "Wahai Abu Qatadah! Aku mohon dengan nama Allah, bukankah kau tau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?"

Ia hanya diam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap terdiam. Aku mengulanginya sekali lagi, tapi ia hanya menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!" Air mataku tidak tertahankan lagi. Kemudian aku kembali dengan penuh rasa kecewa.

Pada suatu hari aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinag. Tiba-tiba datanglah orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, "Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik?"

Orang-orang di pasar itu menunjuk kepdaku, lalu orang itu datang kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat kepadaku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, "… Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kamu akan menghiburmu!" Hatiku berkata ketika membaca surat itu, "Ini juga salah satu ujian!" Lalu aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

Pada hari yang ke-40 dari pengasinganku di kampung halaman sendiri, ketika aku menanti-nantikan turunnya wahyu tiba-tiba datanglah kepadaku seorang pesuruh Rasulullah saw. menyampaikan pesannya, "Rasulullah memerintahkan kepadamu supaya kamu menjauhi istrimu!"

Aku semakin sedih, namun aku juga semakin pasrah kepada Allah, hingga terlontar pertanyaanku kepadanya, "Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang akan kulakukan?" Ia menjelaskan, “Tidak. Akan tetapi, kamu harus menjauhkan dirimu darinya dan menjauhkannya dari dirimu!"
Kiranya Rasulullah juga sudah mengirimkan pesannya kepada dua sahabatku yang bernasib sama. Aku langsung memerintahkan kepada istriku, "Pergilah kau kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukumnya kepada kita!"

Istri Hilal bin Umaiyah datang menghadap Rasulullah saw. lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah seorang yang sudah sangat tua, lagi pula ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah ada keberatan kalau aku melayaninya di rumah?" Rasulullah saw. menjawab, "Tidak! Akan tetapi ia tidak boleh mendekatimu!" Istri Hilal menjelaskan, "Ya Rasulullah! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini!" Ada seorang familiku yang juga mengusulkan, "Coba minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayai dirimu seperti halanya istri Hilal bin Umayah!" Aku menjawab tegas, "Tidak Aku tidak akan minta izin kepada Rasulullah saw. tentang istriku. Apa katanya kelak, sedangkan aku masih muda?"

Akhirnya, hari-hari selanjutnya aku hidup seorang diri di rumah. Lengkaplah bilangan malam sejak orang-orang dicegah berbicara denganku menjadi 50 hari 50 malam. Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang duduk berdzkir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini. Tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. "Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!"

Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya. Rasulullah saw menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.

Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Abu Thalhah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, "Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!". "Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?" tanyaku sabar. "Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!" jawab Rasul saw.

Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw."

Kemudian Ka’ab bin Malik membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu, sementara air matanya berderai membasahi kedua pipinya.

"Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang." (At-Taubah:118)

.~* Mabrur Sebelum Berhaji *~.

Dikisahkan, Khalifah Harun Al-Rasyid radhiallahu 'anhu pernah berhaji bersama pengawalnya. Usai thawaf beliau beristirahat, duduk bersandar di salah satu pilar Masjidil Haram. Karena lelah, beliau terlelap. Dalam keterlelapannya, beliau bermimpi ada dua malaikat yang berbincang,

"Tahun ini banyak sekali orang yang menunaikan ibadah haji." komentar  salah satu Malaikat.

"Betul, kurang lebih tujuh ratus ribu orang yang berhaji tahun ini." jawab yang lainya.

"Tapi tak ada satu pun di antara mereka yang mabrur hajinya."

"Benarkah demikian? Bukankah itu urusan Allah? Apa penyebab haji mereka tidak mabrur?"

"Macam – macam, ada yang karena riya', ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang  hajinya sudah berkali  kali, sementara masih banyak orang yang tidak  mampu, dan berbagai sebab lainnya. Tetapi ada satu orang yang mendapatkan pahala mabrur tahun ini, padahal ia tidak pergi berhaji."

"Sungguh beruntung orang itu, siapakah dia?"

"Orang-orang memangilnya 'Abdullah, tukang sol sepatu dari negeri Syam."

Mendengar perbincangan itu Sang Khalifah terkejut dan tersadar dari keterlelapannya. Heran, apa yang baru saja beliau dengar. Sepulang dari Mekah beliau mengajak pengawalnya menuju negeri Syam, untuk mencari seseorang yang disebut-sebut dalam perbincangan dua malaikat di mimpinya.



Sesampainya di negeri Syam, di salah satu kampung, beliau dan pengawalnya mulai melakukan pencarian. Apakah ada tukang sol sepatu yang disebut 'Abdullah? Ternyata banyak orang yang mengenalnya. Menurut penduduk kampung itu, setiap petang Abdullah selalu melewati kampung itu, sementara tempat tinggal 'Abdullah masih dua kampung lagi dari kampung itu. Hari menjelang petang, penantian pun dimulai. Nampak seorang tukang sol sepatu melewati kampung itu lalu dihentikannya,

"Apakah anda yang bernama 'Abdullah?" tanya Sang Khalifah.

"Bukan, Tuan. 'Abdullah masih jauh di belakang saya." jawab tukang sol sepatu.

Hampir setiap tukang sol sepatu ditanya, namun 'Abdullah yang dimaksud belum ditemukannya.

Semburat merah mulai menghias di ufuk barat. Dari kejauhan nampak seorang tukang sol sepatu berjalan memasuki kampung itu. Mendekat, mendekat, dan semakin dekat. Dia seorang tukang sol sepatu berpakaian lusuh. Dialah 'Abdullah yang dicari. Sang Khalifah dan pengawalnya pun menghentikannya.

"Wahai Tuan, apakah Tuan yang disebut 'Abdullah?"

"Betul Tuan, saya 'Abdullah. Tuan-tuan ini siapa?"

"Siapa kami ini bukan hal penting. Kami berangkat dari Mekah, sengaja datang mencari Tuan sekedar ingin bershilaturrahim."

"Subhanallah, tentu Tuan-tuan menempuh perjalanan yang melelahkan. Saya akan senang jika Tuan-tuan tinggal beberapa hari di gubuk kami."

"Dengan senang hati, Tuan Abdullah. Kami pun senang jika Tuan mengizinkan." jawab Sang Khalifah, sesuai dengan keinginannya.

Selepas Maghrib di kampung itu, mereka pun berangkat menuju kediaman 'Abdullah. Di gubuk itu 'Abdullah tinggal bersama istrinya yang tengah mengandung. Jamuan pun dihidangkan. Hidangan-hidangan istimewa disuguhkan untuk tamu mereka. karena mereka faham akan hadis Rasulullah SAW,
"Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya."

Dalam benak Sang Khalifah berguman,
"Bukan.. bukan karena ini (memuliakan tamu) ia mendapatkan pahala mabrur, pasti ada hal lain."

Tiga hari telah berlalu, namun Sang Khalifah belum menemukan jawaban atas keheranannya. Akhirnya beliau pun mengutarakan rasa penasarannya kepada 'Abdullah. Beliau menceritakan perihal mimpi yang dialaminya.

"Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar.." ungkap Sang Khalifah.

"Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Mekah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini  biaya itu sebenarnya telah terkumpul."

"Tapi anda tidak berangkat haji."

"Benar"

"Kenapa?"

"Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia mengidam berat."

"Lalu?" tanya Sang Khalifah penasaran.

"Dia mengidam daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda tua dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang tidak boleh, hingga  saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak. Akhirnya saya tanya kenapa?

"Daging ini halal untuk kami dan haram untuk  tuan..." katanya,

"Kenapa?" tanyaku lagi,

"Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya tentulah kami akan mati kelaparan..." jawabnya sambil menahan air mata.

Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istri saya, diapun menangis, akhirnya uang bekal haji saya berikan semuanya untuk seorang janda tua itu."

Mendengar cerita tersebut Sang Khalifah pun tak mampu membendung air mata.
"Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya..." ujar Sang Khalifah.

================================================

NB: Kisah ini sudah banyak dikisahkan dengan berbagai versi. Dalam kisah lain seorang 'Abdullah disebutkan bernama Sa’id Ibnu Muhafah. Terlepas dari keshahihan kisah ini, mari kita ambil hikmahnya. Dan kisah ini patut jadi renungan kita semua.

Wallahu a'lam bi shawwab.

~.¤.~ Merangkak Menuju Surga ~.¤.~




Suatu hari setelah masa wafatnya Rasul SAW, penduduk kota Madinah Al Munawarah ramai disibukkan dengan menyambut rombongan kafilah Abdurrahman bin Auf R.A.. Sebagai saudagar besar kala itu, dengan bangga Abdurrahman bin Auf R.A. membawa 500 ekor unta lengkap dengan barang dagangannya.

Hal itu mengundang perhatian Ummul Mu'minin 'Aisyah R.Ha., hingga ia berkata kepada saudaranya,
"Sungguh, Rasulullah SAW pernah berkata padaku semasa hidupnya, 'Sesungguhnya aku melihat Abdurrahman bin Auf berjalan menuju surga dengan cara merangkak'."

Kemudian disampaikanlah ungkapan Ummul Mu'minin itu kepada Abdurrahman bin Auf R.A.. Mendengar kabar itu seketika tubuh Adurrahman bin Auf R.A. melemah dan tersungkur sujud di atas tanah cukup lama, seraya menangis memohon ampunan atas kekhilafan dirinya.

Lalu ia pergi menghadap Ummul Mu'minin,
"Wahai Ummul Mu'minin, terima kasih engkau telah mengingatkanku dengan sabda Rasulullah SAW. Demi Allah aku tak ingin merangkak menuju surga. Jadilah engkau saksi bagiku bahwa seluruh kendaraan dan barang bawaanku ini aku sedekahkan untuk seluruh penduduk Madinah."

Setelah itu ia kembali menuju kerumunan orang-orang yang sibuk melihat-lihat dan memilih barang bawaan Abdurrahman bin Auf R.A.
"Wahai penduduk Madinah, pilihlah sesuka kalian dan ambillah. Semua bawaan ini telah aku sedekahkan untuk kalian."