"Ciyyeee...yang udah tunangan, cincin 'Aini baru nih...?!" goda teman-temanku yang masih berkumpul di depan kantor Yayasan tempat kami bekerja.
"Assalaamu'alaikum...bukannya pada masuk kok malah ngumpul disini, udah hampir jam delapan pagi nih.." ujarku yang memang baru tiba di kantor.
"Wa'alaikumsalaam...alaah...'Aini ngalihin pembicaraan nih..." jawab Nita sahabatku menimpali.
"Apaan sih...Nit..." jawabku basa-basi sambil berlalu masuk ke ruang kerja.
Tak sadar aku dibuntuti Nita, ia terus memburu kabar proses khitbahku yang terjadi semalam.
"Eh...Aini, ceritain dong kemaren gimana prosesnya?" tanya Nita penasaran.
"Alhamdulillah lancar-lancar aja..." jawabku mengabarkan.
"Trus..trus..kapan nikahnya?"
"InsyaAllah bulan depan...do'ain yah!!"
"Waaah cepet bener...udah gak tahan yah...?" lagi-lagi Nita menggodaku.
"Sssttt ah...nanti kedengeran orang lain lho...!" timpalku mengingatkan Nita.
Nita memang begitu, suka bercanda dan menggoda teman-teman dekatnya. Meskipun begitu, selain kami bersahabat sejak SD dia juga guru bagiku. Guru yang banyak mengajarkan arti kemanusiaan. Dari Nita aku belajar bersosialisasi, belajar peka terhadap apa yang terjadi. Tak jarang kami atas nama Yayasan sering berkunjung ke dusun-dusun, untuk sekedar membagikan bahan makanan pokok dan pakaian layak pakai.
Berkat Nita pula aku mengenal seorang ikhwan yang semalam mengkhitbahku, namanya Iqbal. Baru tiga bulan ini kami saling mengenal. Dia seorang ikhwan yang aktif di suatu organisasi masyarakat. Seorang lelaki yang berpostur tinggi dan cukup tampan menurut teman-temanku.
Mmhh...ada rasa berbunga-bunga jika teringat proses semalam di rumahku. Aku yang berada di ruang tengah hanya mendengar samar-samar suara perbincangan mereka di ruang depan. Hingga akhirnya Ibuku menghampiri,
"Nur (panggilanku di rumah)...udah siap? Semua udah kumpul dan dibicarakan tinggal nunggu kamu tuh..."
Perlahan aku mulai melangkahkan kakiku yang terasa berat. Meskipun berat langkahku entah mengapa aku tidak merasa menyentuh lantainya. Ada rasa yang membalutku hingga aku merasa melayang. Setibanya diruang depan, kulihat ada beberapa orang yang masih asing dalam pandanganku. Mungkin itu kerabat atau keluarganya Iqbal. Segera kutundukkan pandangan dan duduk ditempat yang tak jauh dari tempat aku datang. Dan rasa gugup kini mulai menyerangku. Hingg aku bisa merasakan kencangnya debaran jantungku.
"Naaah...Muhammad Iqbal, betulkah ini 'melati' yang mewangi di 'hati'mu?"
ungkap pamanku yang sekaligus menjadi protokol malam itu. Mendengar ucapan pamanku orang-orang yang hadir malam itu pun tersenyum-senyum. Cukup membuat debaran jantungku bertambah keras.
"Betul Om..." suara Iqbal yang entah duduk disebelah mana. Aku tak berani mengangkat pandangan mencari keberadaannya. Seakan-akan ada sesuatu yang menahan kepalaku untuk tetap menunduk.
"Nur'aini...betulkah ini lelaki yang selalu mengganggu di setiap tidurmu?" tanya pamanku yang kurasa agak berlebihan. Membuat mereka yang hadir malam itu bukan hanya tersenyum, tapi juga tertawa-tawa. Memicu jantungku memompa kencang aliran darahku.
Dengan terpaksa aku mengangkat pandanganku, mencari sosok yang ditunjuk pamanku. Setiap jengkalnya kujamahkan pandanganku menyusuri ruang itu, dan... Dia pun tengah tertunduk tanpa melihatku. Segera kuanggukkan kepalaku tanpa bersuara.
"Tuh...kalau sudah saling melihat gini kan jelas siapa calonnya.
Jadi kita langsung tanya saja...Nur'aininya...
Nur...Dek Iqbal ini beserta keluarganya datang kemari bermaksud melamar kamu
Sekarang gimana kamu Nur...terima lamarannya atau tolak...?
Kalau diterima anggukkan kepala... Kalau ditolak...kebangetan...
sayang nih udah bawa buah-buahan, kue, sama cincin nih..." canda pamanku.
Kontan saja semua yang hadir disitu tertawa mendengar kelakar Pamanku.
Kecuali Iqbal yang hanya tersenyum, dan aku yang semakin tak karuan.
Setelah semua tawa agak mereda, aku segera mengangukkan kepala sebagai tanda menerima. "Alhamdulillaah..." serempak orang-orang yang hadir semalam.
***
Hampir tiga minggu proses khitbah berlalu. Hari itu hari Kamis. Sepulang kerja dari Yayasan aku bersama Nita menghadiri pengajian di Daarut Tauhid. Pengajian rutin setiap malam Jum'at yang di pimpin Kyai kondang, A Agym (Abdullah Gymnastiar). Selepas pengajian sesampainya di rumah, aku langsung menghempaskan tubuhku di dalam kamar. Menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan. Sekedar tuk melepas lelah yang terhimpun di sekujur badan.
"Assalaamu'alaikum...'Cahaya Mataku' (arti dari namaku: Nur'aini)
Ahad ini ada reuni SMP, kamu dateng kan?" sebuah SMS dari nomor tak dikenal.
Nomor yang sering mengusik ketenanganku beberapa minggu ini. Mulai dari "CuMi" sampai SMS-SMS kosong.
"Wa'alaikumsalam, InsyaAllah...ini nomor siapa sih?" balasku penasaran.
Cukup lama aku menunggu balasan, hingga 10 menit kemudian masuk sebuah pesan.
"Sang Perindu..." jawabnya singkat.
MasyaAllah...?!?! Ada rasa sesak memenuhi rongga dadaku. Kata-kata terakhir itu... Aku mengenalnya...!!! Kata-kata yang selalu mengiang di telingaku bertahun-tahun yang lalu. Sebuah kata yang sering digunakannya sebagi penutup di akhir surat-suratnya untukku.
"Rizal...???" balasku singkat.
"Ahlan wa sahlan, yaa jamiilah..." balasnya dari seberang sana.
Sebuah kalimat yang sama yang selalu jadi pembuka di setiap suratnya.
Rupanya Rizal mendapatkan nomorku dari Nita beberapa bulan yang lalu. Rizal teman dekatku se-SMP hingga SMU dulu. Bahkan kami merasa lebih dari sekedar teman dekat waktu itu (tapi tidak pacaran). Namun setelah lulus SMU Rizal bekerja ke Batam, sedangkan aku melanjutkan kuliah di Bandung. Sejak itu tak ada pertemuan lagi, selain pucuk-pucuk surat yang selalu datang setiap bulannya. Pucuk-pucuk surat yang selalu diakhiri dengan kata "Sang Perindu". Hingga akhirnya tak ada kabar sama sekali.
"Rizal...!!!" bisikku dalam hati. Mengisyaratkan bahwa aku tertawan rindu selama bertahun-tahun ini. Bagaimana tidak, dia yang dulu mengajarkanku berjilbab. Dia yang dulu membimbingku mengenal Rabb-ku. Dia yang selalu mengingatkan aku bahwa aku belum halal baginya. Dan dia yang pernah berjanji, suatu saat akan menjadikanku halal untuknya. Sehingga bertahun-tahun belakangan ini namanya terukir di pusara hati. Nama yang selalu hadir di sanubari. Bayang-bayang wajahnya mengitari kepalaku selama ini. Lembut tutur katanya masih terngiang ditelingaku hingga kini.
"Rizal... Kamu terlambat, Sayang...!!!" bisikku lagi semakin lirih dalam hati. Seiring bulir-bulir kerinduan yang sudah membanjiri pelupuk mataku. Karena Rizal sudah tahu bahwa aku telah dikhitbah, dan beberapa minggu lagi aku akan menikah. Hingga dalam pesan terakhirnya malam itu,
"Cukuplah aku yang tertawan rindu...!!!
Untukmu...bahagialah di samping suamimu kelak.
Ta'atilah dia selama dia ta'at pada Allah.
Karena keridhoannya adalah keridhoan Allah.
Semoga Allah memberkahi..."
Tak dapat kutahan lagi butiran mutiara dari mataku. Tak mampu kubendung lagi tetesan hangat yang melintasi pipiku. Ku tahu ini ujian dari-Mu. Ujian terindah yang Engkau berikan untukku. Sebagai bentuk kasih sayang-Mu padaku.
Rabb...
Sekiranya Engkau memberikan pilihanMu atas kehendakku
Niscaya kupilih dia yang menjadi penggenap separuh Dien-ku
Jikalah Engkau tak menyayangiku atas ketetapan-Mu
Niscaya aku berpaling dari apa yang Engkau tetapkan untukku
Tetapi Yaa Rabb...
Patutkah aku yang lemah ini memilih selain pilihan-Mu?
Patutkah aku yang hina ini menetapkan selain ketetapan-Mu?
Ampuni hamba Yaa Rabb...
Yang berhasrat untuk berpaling dari pilihan-Mu
Maafkan hamba Yaa Rabb...
Yang berhasrat untuk berpaling dari ketetapan-Mu
Rabb...
Lindungi aku dari keburukan nafsuku
Jangan kau golongkan aku sebagai orang yang sesat
Sebagaimana yang telah Engkau firmankan...
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS Al Ahzab : 36)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar