Minggu, 09 Oktober 2011

Hidayah Berbuah Nikah

Adalah Salman, ‘Si Santri Bengal’ di pesantrenan. Wajahnya rupawan tapi kelakuannya tak cukup menawan. Kenakalannya membuat orang enggan berdekatan. Meski demikian, ilmu agamanya tak disangsikan. Tak satu pun santri yang ilmunya sepadan. Salman...Salman...

Ada pun Kyai Imran, satu-satunya guru yang disegani. Pemilik pondok yang hampir sebulan baru ditinggal istri. Semenjak itu beliau lebih sering mengurung diri. Sesekali keluar jika sholat dan jadwal mengaji. Tak satu pun santri yang segan menghampiri jika beliau sedang mengurung diri.

Suatu siang, kala panasnya nyaris membakar. Sebuah mobil datang membawa gadis bercadar. Mereka temui Kyai yang sedari tadi tak kunjung keluar.
“Wah, wah…rupanya Kyai tak jadi ‘gulung tikar’…” seru Salman berkelakar.

Salman merasa iri di dasar hati. Rasanya tak pantas Kyai segera mendapat pengganti. Selepas ketiga tamunya pergi, Salman pun segera temui Kyai.
“Kyai…baru 20 hari Kyai ditinggal wafat Sang Istri,
macam mana niat Kyai cari pengganti?
Gadis cadar itu tak layak untuk Kyai.
Kasihlah kesempatan untuk kami para santri.
Khususnya si Salman ‘Santri Bengal’mu ini.”

Kyai tak segera menjawabnya. Sekedar termanggut-manggut mendengarnya. Rupanya Salman tak faham akan apa yang dilihatnya. Sang Kyai pun menantangnya.
“Kau ada keinginan pada gadis bercadar? Gampang…hanya saja ada syaratnya?”
“Katakan Kyai, katakana pada si Salman ini syarat-syaratnya…” jawabnya.

“Jaga sholat fardhumu yang lima waktu…” ungkap Kyai.
“Enteng nian syaratnya, Kyai…” sahut Salman tertawa geli.
“Belum selesai…jaga sholat fardhumu yang lima waktu,
tanpa tertinggal ‘Takbiratul Awal’, selama 40 hari berturut-turut…sanggup?” lanjut Kyai.

“Alamak… boleh kurang dari 40 hari tak?” tawar Salman.
“Sudah banyak cakap, banyak tawar pula kau, Salman…” ujar Kyai.
“Siapa nak jamin saya masih hidup sampai 40 hari, Kyai?” elak Salman.

“40 waktu, rasanya cukup untuk orang macam kau…” tutur Kyai.
“40 waktu? Kalau sehari ada 5 waktu, berarti hanya 8 hari, begitu?”
“Ya…8 hari, 40 waktu berturut-turut.” tegas sang Kyai.
“InsyaAllah, Kyai…si Salman ini nak buat seperti cakap Kyai.” ucapnya berjanji.

Sehari dua hari Salman mampu menjaga sholat fardhunya. Berjama’ah awal waktu tanpa tertinggal ‘Takbiratul Awal’nya. Shubuh di hari ketiga Salman terlelap karena kelelahan semalamnya. Sehingga masbuk dalam sholat berjama’ah Shubuhnya. Namun Kyai masih memberi kesempatan padanya. Salman pun mengulang dari awal semua usahanya.

Dua hingga empat hari Salman masih merasa tenang. Janjinya pada Kyai masih dapat dipegang. Hingga suatu siang, kala ia sibuk di tengah ladang. Adzan Zhuhur terlanjur berkumandang. Berdebar hatinya ibarat mendengar tabuhan perang. Khawatir tertinggal ‘Takbiratul Awal’ ia pun berlari kencang. Namun sayang di sayang, raka’at kedua berjama’ah, Salman baru datang. Janjinya gugur, hati pun tak tenang.

Untungnya Sang Kyai berbaik hati. Salman mendapat kesempatan sekali lagi. Membuatnya tak berkecil hati penuhi janji pada Kyai.

Hari berganti hari, Allah Maha Membalikan hati. Atas usaha Salman menjaga sholatnya berhari-hari, Allah turunkan hidayah ke setiap celah hati. Salman tak lagi peduli akan janjinya pada Kyai. Ia hanya ingin perbaiki keta’atannya pada Ilahi.

Salman semakin rajin mengaji. Mengaji Qur`an juga kitab hadits, terlebih lagi mengaji diri. Betapa Salman menyadari bahwa ia telah lupa diri. Ucapannya pada Kyai tempo hari sungguh ia sesali. Hingga tiba hari yang dinanti, Salman tak kunjung temui Sang Kyai.

Seiring bergantinya hari, Salman teringat untuk segera temui Kyai. Di datanginya Sang Kyai yang masih mengurung diri.
“Kau telah penuhi janjimu, Salman…! Hari ini juga datanglah ke alamat ini, tempat tinggal gadis bercadar yang kau sebut-sebut tempo hari…” tutur Sang Kyai.

“Sebelumnya maafkan si Salman ini, Kyai… Kedatangan Salman kemari bukan nak menagih janji pada Kyai. Tetapi si Salman ini nak minta maaf atas cakapan tempo hari. Tak patut si Salman ini berbuat tak santun pada Kyai. Adapun gadis bercadar itu, memang layak menjadi pengganti sebagai teman hidup Kyai…! Biarlah si Salman ini perbaiki diri agar lebih dekat pada Ilahi.” papar Salman rendah hati.

Dengan segenap usaha Salman, Allah berkehendak membalikkan hatinya. Allah bebaskan sifat nifaq dari hatinya, sebagai mana pesan Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,
“Barangsiapa yang sholat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul awal bersama imam, maka baginya dua jaminan. Jaminan dibebaskan dari api neraka, dan jaminan dibebaskan dari sifat munafiq.” (HR Tirmidzi)

Kyai pun tersenyum-senyum mendengarnya. Lega hatinya melihat perubahan pada ‘Santri Bengal’nya. “Alhamdulillaah… Sesungguhnya kedatangan mereka kemari, bukan untuk menawarkan putrinya. Tetapi orangtuanya meminta dicarikan jodoh untuk putri satu-satunya. Dan aku memilih, engkaulah orangnya. Datanglah kerumahnya, temui orangtuanya. Katakan aku yang memilihmu untuk melamar putrinya.”

Salman…Salman… Girang nian hati seorang Salman. Bukan hanya hidayah yang didapatkan. Tapi juga jodoh yang sudah dirindukan. Hingga dua bulan kemudian, Salman menikahi gadis bercadar yang diidam-idamkan.

Dua hadiah yang takkan ternilai harganya. Hadiah dari Allah untuk hamba-hamba pilihan-Nya. Hadiah berupa hidayah, dan hadiah berupa nikah yang sudah lama dirindukannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar